10 Kesalahan Dalam Kepemimpinan dan Manajemen

Sering kali dikatakan bahwa kegagalan adalah langkah awal dari kesuksesan, dan dengan gagal kita akan bisa belajar lebih banyak. Namun, akan jauh lebih baik jika kita tidak melakukan kesalahan dari awal.

Dalam artikel ini, kita akan melihat 10 kesalahan yang umum terjadi dalam kepemimpinan, dan manajemen, dan kita akan menggaris bawahi apa yang dapat Anda lakukan untuk menghindarinya. Jika dapat belajar dari artikel ini dibandingkan dari pengalaman, Anda akan terhindar dari banyak masalah dan tidak akan membuang-buang waktu.

1. Kurangnya feedback

Sarah adalah sales yang berbakat, tapi ia memiliki kebiasaan buruk menjawab telepon dengan cara yang tidak profesional. Boss nya memperhatikan hal ini, tapi ia tidak memberitahukian hal ini pada Sarah. Boss nya menunggu saat review untuk memberitahukan pada Sarah tentang kesalahannya dalam menjawab telepon. Sayangnya, selama menunggu review dari bossnya, Sarah telah melakukan banyak kesalahan dan menghilangkan kesempatan terhadap pelanggan yang berpotensi.

Berdasarkan survey 1.400 eksekutif  oleh The Ken Blanchard Companies, kegagalan untuk memberikan feedback dan saran adalah kesalahan umum yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Saat Anda tidak menyediakan masukan yang membantu untuk bawahan Anda, Anda telah menjauhkan mereka dari kesempatan untuk meningkatkan performa mereka.

Untuk menghindari kesalahan ini, belajarlah cara untuk memberikan masukan secara reguler kepada tim Anda.

2. Tidak menyediakan waktu untuk Tim Anda

Saat Anda menjadi seorang pemimpin atau manager, akan sangat mudah untuk tenggelam dalam kesibukan Anda sehingga Anda tidak memiliki waktu untuk tim Anda.

Ya, tentu saja Anda memiliki sebuah proyek yang harus anda sampaikan kepada mereka. Tapi akan sangat penting untuk tim Anda jika Anda bisa menyediakan waktu untuk mereka saat mereka membutuhkannya. Tim Anda tidak akan tahu apa yang harus mereka lakukan tanpa arahan dan suport dari Anda.

Hindarilah kesalahan ini dengan menyediakan satu waktu khusus dari seminggu waktu kerja yang Anda miliki untuk mereka, dan dengan mempelajari cara mendengarkan yang baik. Tingkatkanlah kecerdasan emosional Anda, sehingga Anda bisa lebih sadar akan kebutuhan tim Anda. Anda juga dapat menggunakan cara me-manage dengan berada di antara mereka. Hal ini akan sangat efektif untuk bisa terus berhubungan dengan tim Anda.

Saat Anda berada dalam suatu kepemimpinan, tim Anda harus selalu menjadi prioritas utama. Dalam hati mereka, itulah pemimpin yang mereka inginkan!

3. Bersikap terlalu Lepas Kendali

Salah satu dari tim Anda telah menyelesaikan proyek yang penting. Permasalahannya sekarang adalah ia salah mengartikan spesifikasi dari proyek yang ia kerjakan, dan Anda tidak berhubungan dengan dia saat ia mengerjakannya. Sekarang, ia telah menyelesaikan proyeknya dengan hasil yang salah, dan Anda harus menghadapi klien Anda yang marah akan hal ini.

Banyak pemimpin yang ingin menghindari Micro management. Tetapi, mereka justru melakukannya dengan cara yang terlalu esktrim, dan melepaskan seluruhnya kepada bawahan mereka. Hal ini tidak  baik, dan Anda seharusnya bisa menyeimbangkannya.

4. Bersikap terlalu ramah

Banyak dari kita yang ingin terlihat ramah dan bersahabat di dalam tim kita. Pada kenyataanya, orang-orang memang lebih bahagia bekerja dengan pemimpin yang bisa akrab dengan mereka. Namun, ada beberapa saat dimana Anda harus membuat keputusan yang sulit mengenai orang dalam tim Anda, dan beberapa orang akan mengambil keuntungan dengan kedekatan mereka bersama Anda.

Ini tidak berarti bahwa Anda tidak diijinkan untuk bersosialisasi dengan bawahan anda. Tapi, Anda harus dapat menyeimbangkan antara menjadi seorang teman dan menjadi seorang pemimpin.

Tentukanlah batasan yang jelas, sehingga tim Anda tidak akan mengambil keuntungan dari kedekatan mereka dengan Anda.

Mempelajari Konsep Lean Startup : Customer Development Script

Pertengahan tahun 2012, saya bertemu dengan 2 orang technical founder startup dari Indonesia yang mengatakan akan membangun startup ecommerce seperti ebay, dalam hati saya berpikir “apakah Indonesia butuh another Tokopedia, Rakuten, Bukalapak ?”

Kemudian ia menjelaskan diferensiasi produknya yang saya tidak ingat lagi tetapi rasanya tidak ada bedanya dengan yang lain.

Awal Mei 2013 saya dapat kabar bahwa mereka kesulitan mendapatkan user dan mereka juga mengatakan ternyata setelah buat produk, harus dipasarkan dll dan ternyata tidak semudah yang mereka kira dan .. konsepnya tidak masuk di market Indonesia.

Di dunia startup ada istilah “get out of the building” yang dipopulerkan Steve Blank. Apa maksudnya ? Seorang entrepreneur jangan membangun produk secara terisolasi dari marketnya. Cerita di atas bisa jadi kebalikan dari “get out of the building”.

Jika Anda entrepreneur kuliner kecil-kecilan, let say, jual jus di depan kampus, jika dalam 3 hari atau 1 minggu yang beli dari Anda sepi, Anda tentu akan langsung membuat perkiraan bahwa ada yang salah dengan jualan jus di depan kampus atau ada yang salah dengan jus Anda. Hanya butuh waktu 1 minggu.

Jika Anda adalah entrepreneur internet yang butuh beberapa bulan untuk membangun product, lebih buruk lagi jika Anda tidak tahu konsep MVP (Minimum Viable Product) dan Anda berusaha membuat product sesempurna mungkin sebelum dilempar ke market, maka Anda membutuhkan waktu 3-6 bulan sebelum dilempar ke market, lebih buruk lagi ada yang sampai 1 tahun.

Entrepreneur internet yang mengerjakan product yang sulit secara teknikal seperti social network, marketplace, dalam kasus yang buruk, memiliki masa “sibuk di dunianya sendiri” merasa produknya bisa memecahkan masalah – tanpa mengetesnya ke market – lebih lama dari entrepreneur small business yang jualan di depan kampus. Artinya ? risiko waktu dan uang yang terbuang lebih besar.

Postingan ini menjelaskan definisi konsep lean startup yang merupakan metode meminimalisasi risiko dalam membangun bisnis, terutama dengan cara mengandalkan iterasi (langkah pengulangan) dari product Anda ke market untuk mendapatkan feedback yang berkualitas secepat mungkin dan sesering mungkin dari market.

Posting lain tentang konsep lean startup bisa dibaca di : Pelajaran lean startup oleh Kark, Suitmedia, Adadiskon

Konsep Lean Startup : Click to enlarge

 

Apa itu lean startup ?

Prinsip utama dari lean startup adalah untuk mengurangi waste. Proses Lean Startup mengurangi waste dengan meningkatkan frekuensi kontak dengan customer, sehingga pengujian dapat dilakukan dan menghindari asumsi pasar yang tidak benar sedini mungkin.

Eric Ries telah membuat trademark untuk kata “Lean Startup”

The Lean Startup takes its name from the lean manufacturing revolution that Taiichi and Shigeo Shingo are credited with developing at Toyota. Lean thinking is radically altering the way supply chains and production systems are run. Among its tenets are drawing on the knowledge and creativity of individual workers, the shrinking of batch sizes, just-in-time production and inventory control, and an acceleration of cycle times. It taught the world the difference between value-creating activities and waste and showed how to build quality into products from the inside out. Lean Startup adapts these ideas to the context of entrepreneurship, proposing that entrepreneurs judge their progress differently from the way other kinds of ventures do. Lean Startup uses a different unit of progress, called validated learning. With scientific learning as our yardstick, we can discover and eliminate the sources of waste that are plaguing entrepreneurship.  “

Diambil dari buku : Eric Ries “The Lean Startup: How Today’s Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses (p. 18)”.

Apa saja langkah-langkah basic dalam proses lean startup ?

Secara ringkas, berikut ini adalah langkah-langkah utama dari proses Lean Startup. Setiap langkah ini dirancang untuk dilakukan dengan cepat dalam upaya untuk keluar dari kantor dan belajar sebanyak mungkin di tengah-tengah market daripada menghabiskan waktu menulis rencana bisnis 40-halaman yang tidak berarti apa-apa pada akhirnya.

  • Customer Development
  • Minimum Viable Product
  • Invest in Learning, not Asset
  • Rapid Build->Measure->Learn Cycles

Apa itu Customer Development?

Steve Blank pertama kali memperkenalkan konsep Customer Development dalam buku, “The Four Steps to the Epiphany”. Buku ini menyatakan bahwa sebagian besar startup gagal karena mereka tidak mengembangkan pasar mereka, bukan karena mereka tidak mengembangkan produk mereka.

Customer Development adalah tentang mempertanyakan asumsi bisnis inti Anda. Customer Development adalah suatu kerangka kerja empat langkah untuk menemukan dan memvalidasi bahwa Anda telah mengidentifikasi pasar untuk produk Anda, membangun fitur produk yang tepat yang memecahkan kebutuhan pelanggan, menguji metode yang benar untuk memperoleh dan mengkonversi pelanggan, dan menggunakan sumber daya yang tepat untuk memperbesar skala bisnis.

Diambil dari buku Cooper, Brant, Vlaskovits, Patrick “The Entrepreneur’s Guide to Customer Development: A cheat sheet to The Four Steps to the Epiphany” (p. 17).

Kerangka kerja ini digunakan untuk membantu entrepreneur memvalidasi bahwa mereka harus memecahkan masalah  untuk segmen pelanggan sasaran mereka. Setelah masalah telah diidentifikasi, proses menciptakan backlog fitur sangat mudah, karena visi ke depan yang jelas.

Berikut ini adalah contoh fiksi Customer Development  skrip klien yang digunakan untuk mendokumentasikan startup mereka.

Contoh Script Customer Development 

Berikut ini empat langkah memetakan masalah, hipotesis untuk pemecahan masalah, dan bagaimana startup melakukan pengujian hipotesis. Sebagian besar tes dilakukan secara manual dengan sedikit atau bahkan tanpa teknologi.

  • Menggambarkan fenomena atau masalah yang startup yang dihadapi di pasar. Sebagai contoh, Sebuah klub sepakbola, misalnya Persija, berada di posisi bagus pada papan klasemen tetapi tidak banyak yang membeli tiket. Oleh karena itu, klub ini harus memiliki cara promosi baru untuk meningkatkan kehadiran.
  • Merumuskan hipotesis kausal (sebab-akibat) untuk menjelaskan pernyataan masalah. Harga tiket Pecrsija terlalu mahal atau pelanggan (penonton) tidak melihat value yang cukup untuk menghadiri permainan.
  • Jelaskan hipotesis untuk membantu memecahkan masalah dan memprediksi hasil implementasinya dengan pendekatan baru. Jika Persija mendorong kelompok-kelompok kecil orang untuk datang ke pertandingan bersama-sama dan menghargai kelompok kecil itu untuk datang dengan menawarkan real value bagi organizer kelompok, penjualan tiket akan meningkat sebesar 1% per game.
  • Mengukur kinerja yang diprediksikan berdasarkan pada pengujian eksperimental.  Pergi ke broker tiket dan minta mereka 20 tiket. Cari representatif dari perusahaan minuman, misalnya Heineken, minta 2 kotak bir sebagai barang promosi yang dibarter dengan promosi di Facebook dan Twitter, tawarkan minuman gratis di hari permainan jika pelanggan membeli tiket dan membawa 2 teman dengan mereka.

Berdasarkan hasil tes tersebut, startup kemudian dapat mengubah hipotesis dan mencoba lagi. Lewati proses ini berulang-ulang (iterative), pelan-pelan perusahaan baru Anda dapat mulai mendefinisikan apa fitur teknologi yang bisa dibangun untuk memecahkan masalah.

Perhatikan script di atas tidak memerlukan teknologi apapun yang akan dibangun. Startup dapat menggunakan alat yang ada (misalnya, Facebook / Twitter ) untuk menguji konsep dan mendapatkan feedback / validasi market segera.

Selain itu, sangat penting bagi startups untuk mendapatkan feedback dari market atau pelanggan nyata yang benar-benar akan membayar startup untuk memecahkan masalah mereka. Dalam contoh di atas, kita akan meminta startup untuk mengumpulkan hipotesis seperti dicontohkan di atas untuk mengetahui berapa banyak pelanggan yang menghargai layanan Anda. Hipotesis ini merupakan dasar dari model bisnis.

Customer Development bukanlah sebuah proses yang dilakukan hanya sekali,  tim startup harus terus-menerus terlibat dengan pelanggan selama masa hidup startup, karena mereka memperbaiki pemahaman mereka tentang pelanggan, masalah mereka, motivasi, anggaran, dll

Jack Ma Memberi Gambaran Seperti Apa Hidup Anda Seharusnya Antara Usia 20 Sampai 60 Tahun

Dalam acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi KBS Korea Selatan, Jack Ma bercerita kepada anak-anak muda Korea Selatan tentang bagaimana caranya bisa sukses dalam hidup, serta penyesalan-penyesalan yang ia hadapi. Menurutnya, ada garis waktu yang harus kita hadapi dalam kehidupan; dimulai dari kita menginjak usia 20, dan terus berjalan hingga berakhir di usia 60.

Ini yang ia katakan (full video: )

 

Sebelum Anda menginjak usia 20, jadilah murid yang baik.

….untuk mendapatkan pengalaman.

Sebelum Anda menginjak usia 30, ikutlah seseorang.

Masuklah ke sebuah perusahaan kecil. Umumnya, di perusahaan besar, bagus untuk Anda mempelajari proses; Anda adalah bagian dari mesin besar. Tapi, di perusahaan kecil, Anda dapat belajar tentang passion dan semangat, Anda belajar tentang mimpi. Anda akan mempelajari banyak hal dalam satu waktu. Jadi, sebelum usia 30, bukan perusahaan mana yang Anda tuju, tapi bos mana yang Anda ikuti. Bos yang baik mengajari Anda dengan cara yang berbeda.

Antara usia 30 sampai 40 tahun, Anda perlu benar-benar memikirkan apakah Anda ingin bekerja sendiri, jika Anda ingin sekali menjadi entrepreneur.

Antara usia 40 sampai 50 tahun, Anda harus melakukan semua hal yang benar-benar Anda kuasai.

Jangan pernah berpikir untuk memulai sesuatu yang baru, itu sudah sangat terlambat. Anda bisa saja sukses, tapi tingkat pengorbanannya terlalu tinggi. Jadi, antara usia 40 sampai 50 tahun, Anda harus fokus mengerjakan hal-hal yang memang Anda kuasai.

Tapi, antara usia 50 sampai 60 tahun, bekerjalah untuk anak muda.

Karena anak muda bekerja jauh lebih baik dari Anda. Jadi, andalkan mereka, berinvestasi-lah pada mereka, dan pastikan mereka memang bekerja dengan baik.

Ketika Anda sudah di atas usia 60 tahun, nikmati waktu Anda.

Berada di pantai, menikmati sinar matahari, sudah terlambat bagi Anda untuk berubah.

Ini saran saya untuk para anak muda: “Usia 25 tahun, buatlah kesalahan. Jangan khawatir! Anda jatuh, Anda bangkit, Anda jatuh lagi….nikmatilah! Anda baru 25 tahun, nikmati pertunjukannya!”

Penyesalan

“Banyak hal yang saya sesali. Saya menyesal bertemu dengan media. Saya menyesal berbicara di depan publik. Karena seharusnya saya bisa melindungi privasi saya. Saya menyesal bekerja begitu keras dan menghabiskan waktu yang sangat minim dengan keluarga saya.

Dan jika saya memiliki kesempatan hidup yang berbeda, saya tidak akan pernah melakukan ini semua. Istri saya berkata, “Kamu bukan milik saya, kamu milik Alibaba.”

Jack Ma

Tapi, hidup itu sangat singkat. Semua ini bicara tentang pengalaman. Orang memandang dari sisi yang berbeda. Beberapa orang berpikir Anda kaya, Anda sukses, tapi sebetulnya tidak! Beberapa orang mengira ia tidak memiliki uang, ia orang yang menyedihkan, tapi bisa saja tidak! Setiap orang memilih jalan hidupnya sendiri.

Saya menangis karena kami punya banyak masalah yang orang lain tidak pernah bayangkan. Saya mendirikan perusahaan, saya mempekerjakan 4.000 orang-orang muda, dan menjalankan perusahaan untuk lebih dari 500 juta orang. Dengan 500 juta orang, jika 1% di antaranya adalah orang jahat, maka artinya Anda bekerja dengan 5 juta orang jahat. Jadi, itu sangat memusingkan.

Tapi, saat ini sudah terlambat untuk menyesal, lupakan tentang penyesalan! Pikirkan, “Saya punya 10-20 tahun lagi”, nikmati pertunjukannya, nikmatilah perjalanannya.”

 

Sumber : Vulcanpost

Bagaimana Strategi Marketing Ekspor Terbaik Melalui Internet ? Wawancara dengan Winsen Eksportir Batu Alam Ke 40 Negara

Winsen Setiawan adalah founder Jualbatualam.com yang mengekspor batu alam ke 40 negara di dunia, termasuk mengekspor untuk Burj Khalifa Dubai, bangunan tertinggi di dunia. Saya bertemu Winsen beberapa kali di event Nasional Bootcamp, tempat di mana saya sering terkejut karena banyak entrepreneur online senior yang sudah memiliki real result tetapi terus semangat belajar untuk meng-update ilmunya.

 

Tolong ceritakan awal mula bisnis Anda hingga sekarang ?

Saya memulai bisnis sejak 2004, tetapi secara akte saya memulai bisnis tahun 2006. Yang saya lakukan adalah ekspor granit, marmer, andesit, batu-batu alam yang dipotong untuk ubin atau dinding. Awalnya dulu saya kerja dengan orang Australia, tetapi bisnisnya kolaps dan dia memberikan customernya ke saya. Jaman dulu saya belum mengerti SEO, masih manual. Cara yang saya lakukan masih browsing-browsing di Alibaba dan situs trading batu alam lainnya dan mem-follow up manual email yang ada.

Waktu itu modal saya hanya 100rb, bukan untuk buat website tetapi untuk beli email berbayar (indo.net.id) agar dipercaya, karena jika memakai email biasa seperti yahoo tidak akan dipercaya. Waktu itu masih mengerjakan di kos-kosan dan warnet. Umur saya 25 tahun waktu itu. Omzet yang didapat waktu itu belum terlalu banyak hanya sekitar 3 bulan 1 kontainer dan 1 tahun 6 kontainer.

Bisnis saya mulai berkembang di tahun 2007, waktu itu saya mendaftar kursus internet marketing pengajarnya Tonton Taufik, anak NBC juga, di situ belajar tentang keyword research.  Tahun pertama omzet yang didapat sekitar $40.000, omzet ini pun baru didapat tahun 2006, sejak 2004 bisnis saya belum menghasilkan sama sekali.

Profit yang saya dapat sekitar 10 juta untuk 1 kontainer.

Tahun 2007 setelah ikut kursus internet marketing, omzet saya mulai naik, dari tahun 2006 hanya 3 negara, tahun  2007 mulai masuk ke 10 negara. Puncaknya tahun 2010 setelah ikut NBC, 1 bulan bisa mendapat order 30 kontainer. Efek dari optimasi web cukup tinggi, dibantu juga karena saat itu lagi ada project.  Sekarang bisnis saya sudah masuk ke 40 negara dibantu oleh 7 karyawan sekarang.

Bagaimana cara menaikkan omzet hingga seperti sekarang ?

Website itu penting dan sering-seringlah visit dan browsing-browsing ke portal trading seperti Alibaba dan menjadi member, dari dulu awalnya menjadi member gratis, lama-lama beli premium membership.

Faktor yang membuat bisnis saya berkembang adalah returning customer yang besar mencapai 80%. Customer yang lama dikumpulkan pelan-pelan jadi banyak. Return customer kebanyakan customer corporate, sedangkan yang individu kebanyakan tidak return.

Persaingan yang ada sebenarnya waktu itu tidak sedikit, saya coba bertanya kepada mereka, kenapa mereka return kepada saya. ternyata kuncinya adalah : fast response dan response real time. Yang penting selalu membalas email dari customer dengan cepat dan profesional. Walaupun saya belum memiliki solusi pada saat itu, tetap saya usahakan untuk membalas dan menjanjikan jawaban esok hari “besok ya saya balas”. Di kantor saya selalu tekankan pada karyawan saya bahwa email di atas 12 jam itu basi dan tidak akan menghasilkan apapun. Jadi selalu balas email sebelum 12 jam.

Kemudian hal yang membuat sukses lainnya adalah disiplin finansial, selalu pisahkan uang Anda dengan uang perusahaan. Banyak orang jatuh di sini, walaupun mereka memiliki servis yang bagus. Walaupun saya di sini sebagai owner, saya orangnya profesional, tidak pernah menggunakan uang perusahaan. Saya orangnya tidak boros sehingga saya hanya hidup dari bonus-bonus saja.

Foto waktu pertama ekspor

 

Bagaimana tips dan tricknya di Alibaba supaya dapat sales ?

Yang pertama adalah membeli Gold Membership sekitar $3000/ tahun. Jika kita membeli Gold Membership di Alibaba kita akan dapat keyword research di Alibaba, seperti keyword research di Google, kita bisa mainkan kata kunci di title produk dan deskripsi produk

Dengan membeli membership, produk saya juga selalu muncul di bagian paling atas search result, kita juga diminta rekening koran, surat-surat perusahaan, jadi customer lebih percaya, lebih trust, karena kita mendapatkan logo trust Gold Supplier.

Saya pernah hampir bangkrut waktu itu, ditipu sekitar 200 juta lebih oleh customer yang tidak membayar. Waktu itu yang menyelamatkan saya adalah backup dana dan integritas saya. Saya tidak pernah membohongi customer jadi saya bisa dipercaya. Ini sebenernya tips dalam berdagang yaitu selalu utamakan kejujuran.

Bagaimana dengan lokal ?

Website saya jualbatualam.com. Sekarang saya main lokal dan membuka web lokal. Saya mendapat proyek tidak lama setelah itu dari World Trade Center di Sudirman Jakarta. Untuk batu alam yang diluar sudah sampai Lego Land di Malaysia, Sentosa Island di Singapore, proyek dari Burj Khalifa Dubai (gedung tertinggi di dunia) dan anamandara resort di Vietnam dan banyak lainnya.

Di tahun 2012 saya sudah merambah menjadi aplikator dan tidak hanya mengekspor barang mentah keluar negeri, tetapi juga memasangkan dan membuatkan design. Sekarang lagi mendapatkan project di Brunei. Di kantor saya sudah punya roadmap bahwa perusahaan saya sampai 20 tahun ke depan akan menjadi seperti apa.

Ada hal lainnya yang mau disampaikan ?

Alibaba dan customer sangat suka dengan details. Jika Anda ingin menjual barang di sana haruslah detail, seperti gambar, fungsinya, tebalnya, hasil lab testnya seperti apa, warnanya, kekuatan tekanan, cara pemasangannya dan dan banyak lainnya.

Sebenarnya Alibaba hanya memunculkan info, customer yang membuka. Apabila semakin sedikit informasi yang kita tampilkan di dalamnya, customer tidak akan memfollow up kita.

Di Alibaba kalau kita beli Gold membership, kita dapat webinar gratis untuk para Gold supplier, di hari-hari tertentu semua anggota gold supplier sedunia dikumpulkan secara online supaya naik di search result caranya bagaimana, menu-menu baru di Alibaba seperti apa, penjelasan fitur dan tips baru.

 

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

 

Alibaba untuk saya efektif sekali, dalam sehari saya bisa mendapat email 2-3 kali. Ini lebih penting dari SEO. Alibaba lebih powerful dibanding traffik dari search engine, marketplace untuk ekspor menurut saya Alibaba.com.

Rekan seperti Pak Frans (peraih 2x penghargaan eksportir dari presiden) memang masuk ke banyak marketplace selain Alibaba, tetapi “tim Jepara” seperti Pipin Girsang, Robert Darwin, Ponco Suhirno semuanya Alibaba Gold Supplier. Sangat powerful.

Karena mindset di dunia perdagangan ekspor, orang yang mau membeli tidak akan ke Google karena hasil yang ditampilkan Google akan bias. Mereka lebih senang ke portal seperti Alibaba dan mencari di sana. Persentasi penjualan saya 90% dari Alibaba sementara dari website hanya sekitar 10%.

 

Untuk sarana promosi lain, mungkin iklan ?

Akhir-akhir ini saya membuat website yang lebih niche, misalnya produk saya yang paling terkenal saya tembak kata kuncinya, saya buatkan website.

Kedua, pakai adwords. Adwords menggunakan kata kunci targeted, kalau mentarget Brazil, keywordnya menggunakan bahasa Portugis.

1 kata kunci untuk 1 negara bahkan hanya untuk 1 kota.

Cara ini sangat tertarget karena saya selalu spesifik. Banyak email masuk dari sana dan 99% tertarget karena yang ingin dibeli adalah barang yang saya iklankan.

Suatu barang, kita harus kenal nama dagangnya (nama populernya) di sana. Untuk mengetahuinya kita harus cek ada tidak importir pioneernya di sana ? Kalau kita tidak tahu nama dagang yang sudah dikenal oleh masyarakat di sana (mis.Brazil) kita akan struggle sendiri.

Kalau kita melakukan hal seperti ini (menggunakan nama yang sudah populer di target pasar) bisnis kita bisa lebih cepat jalan ketimbang pakai nama sendiri yang effortnya jauh lebih besar untuk brand building.

Ini menurut saya masuk ke ranah business skill, seperti “me-mata-matai pasar”, pioneer market di sana pakai nama apa ya ? hal ini sering kali tidak ada di Google, tetapi kita harus tanya-tanya di market sebenarnya, termasuk tanya ke supplier dan customer.

Salah satu situasi yang saya lihat dari para eksportir di Indonesia, hampir 80% dihandle oleh broker dari Malaysia dan Singapura. Hanya sedikit yang bisa direct karena kemampuan bahasa, teknikal skill dokumen ekspor, faktor tidak bankable, tidak punya badan hukum

Sebagai entrepreneur kita harus selalu belajar, kadang orang merasa puas sudah bisa ekspor, tetapi mereka tidak belajar mengelola bisnis secara profesional, tetapi mengelolanya seperti toko kecil. Akhirnya mereka beli mercy tetapi bisnisnya begitu-begitu saja, seharusnya belajar mengubahnya lebih profesional, karyawan di training, manajemennya diatur, upgrade skill keuangan kita, upgrade skill hukum, karena bisnis selalu berkembang.

Belajar Marketing di Media Sosial : 8 Cara Menambah Like Dengan Facebook Ads oleh @IlmuwanSosmed

Editor’s note : Marketing di media sosial sulit diabaikan akhir-akhir ini, kami mengajak rekan-rekan dari Konsultanfacebook.com untuk menulis artikel tentang strategi marketing di Facebook. Konsultanfacebook.com didirikan oleh Ilham Taufiq dan Miftahul Khair, yang didedikasikan untuk membantu para UKM dalam hal pemasaran di media sosial khususnya Facebook.

 

Setiap orang, terlebih lagi marketer, ingin agar fans di Fan Pagenya terus bertambah. Fans ada yang tertarget dan ada juga yang tidak tertarget. Fans tertarget adalah orang-orang yang memang menyukai dan mengapresiasi bisnis kita di Facebook sebagaimana sebagian besar dari mereka mengapresiasinya di dunia nyata. Hanya fans yang relevan yang benar-benar dapat membantu bisnis kita di facebook, dan sebaliknya untuk fans yang tidak tertarget.

Salah satu cara yang sangat cepat untuk mendapatkan fans yang tertarget adalah dengan menggunakan fitur FB Ads. Di bawah ini ada 8 teknik FB Ads yang telah terbukti mendatangkan fans tertarget dengan sangat cepat:

 

1)      Page Like Sponsored Stories

Ini adalah cara termudah untuk menambah jumlah Likes/Fans di Facebook. Page Like Sponsored Stories adalah sebuah ads yang menampilkan “Teman dari xxx Menyukai Brand yyy”. Ads seperti ini hanya menargetkan teman dari fans, dan dapat tampil di sidebar, newsfeed pc/laptop, atau newsfeed facebook mobile.

Ads ini sifatnya social proof, atau pengakuan social. Logikanya adalah “Jika teman saya menyukai sesuatu, bukankah saya juga harus menyukainya?”

 

2)      Gunakan Targeting Dasar yang Relevan

Ketika anda membuat sebuah ads di Facebook, anda wajib menggunakan targeting yang relevan. Dibawah ini adalah beberapa klasifikasi yang dapat anda gunakan untuk menjaring orang-orang yang benar-benar peduli terhadap brand anda dan agar anda tidak menghamburkan uang dengan FB Ads karena ads ditampilkan kepada orang-orang yang tidak tertarget:

–          Geografi (Negara, provinsi, kota)

–          Umur

–          Jenis kelamin

–          Ketertarikan terhadap lelaki atau wanita

–          Status hubungan (menikah, lajang, atau mungkin tidak dispesifikkan)

–          Bahasa

–          Pendidikan (sekolah menengah, kuliah, atau lulus kuliah, atau tidak terspesifikasi)

–          Tempat bekerja (workplace)

Jika brand anda berada di Indonesia, dan pasarnya hanya berada di Indonesia (seperti jasa catering), maka anda wajib menargetkan orang-orang yang tinggal di Indonesia. Dan lebih spesifik lagi anda menargetkan kota anda, atau satu hingga dua kota/kabupaten sebelum atau sesudah kota anda dengan pertimbangan anda hanya bisa memberikan delivery kepada area tersebut. Boleh membidik kota yang lebih jauh dengan catatan masih dalam jangkauan delivery. Anda harus menghindari kota yang tidak mungkin anda kirimkan produk anda, atau kota yang penduduknya sulit untuk mendatangi anda karena beda pulau.

Demikian untuk soal geografi, lakukan klasifikasi yang sama dengan poin-poin berikutnya seperti umur, jenis kelamin, dan lain-lain. Intinya adalah anda harus berorientasi karakteristik konsumen.

3)      Gunakan Precise Interest dan Pengembangan Precise Interest dalam Targeting

Menargetkan orang-orang yang relevan dengan jangkauan yang lebih luas dan akurat dapat dilakukan dengan menetukan Precise Interest yang tepat. Selain itu anda dapat membidik konsumen dari fan page lainnya, termasuk konsumen kompetitor anda. Misalkan anda seorang marketer laptop. Anda bisa membidik pusat penjualan laptop seperti Bhinneka.com dan Glodok Elektronik. Atau institusi tempat berkumpulnya kalangan intelektual yang menggunakan laptop seperti kampus Binus University. Bisa juga merek laptop yang paling diminati di dalam negri seperti Acer. Atau kebiasaan spesifik pengguna laptop seperti Hacking

Jika anda tidak menemukan precise interest atau fan page yang relevan secara langsung dengan niche anda, maka anda bisa menggunakan pilihan Broad Categories dan Suggested Like and Interest yang merupakan pengembangan Precise Interest.

 

4)      Gunakan Ads Marketplace

Ads Marketplace adalah ads yang muncul di bagian sidebar browser. Beda halnya dengan sponsored stories, anda dapat mengubah gambar, judul, dan body content ads ini.

Ads-David-White-4-6-13

 

Ads seperti ini membutuhkan variasi, sehingga diperlukan split testing. Coba gunakan beberapa variasi judul, gambar, body content, dan targeting yang berbeda untuk menemukan ads yang bekerja paling baik.

5)      Gunakan Facebook Sponsored Search Ads

Ketika audience di Fan Page anda masih dalam tahap awal pertumbuhan, anda bisa menggunakan Facebook Sponsored Search.

Anda dapat membidik Fan Page yang lebih populer dan relevan yang sering dicari oleh para pengguna. Fan Page apa saja yang kira-kira di-Like oleh calon audience anda. Cara membuat Facebook Sponsored Ads dapat anda temukan selengkapnya di sini

6)      Bidik List Email

Jika anda saat ini punya database email, maka owner dari email tersebut bisa anda target melalui ads Facebook dengan fitur custom audience.

Targetkan orang-orang yang ada di database email yang belum menjadi fans dengan ads marketplace atau ads Sponsored Search agar mereka dapat diingatkan untuk selain menjadi subscriber anda, mereka juga jadi fans anda. Jika mereka menjadi fans di Fan Page anda, sangat bisa dipastikan conversion rate di Fan Page anda akan jadi lebih tinggi.

 

7)      Target Audience Serupa

Jika orang-orang yang berada dalam list email anda adalah orang-orang yang berkualitas, namun jumlahnya sedikit, maka anda bisa membidik orang-orang yang berkualitas dan potensial lainnya dengan pilihan “Create Similar Audience” pada fitur Power Editor.

 

8)      Buatlah Sebuah Kontes

Cara lain yang cukup baik untuk mendapatkan Like adalah dengan mengadakan kontes. Sekali lagi pastikan hadiah dari kontes itu relevan dengan produk atau servis anda. Walaupun tanpa  ads pun kontes anda tetap bisa berjalan, namun kami mendorong anda untuk menggunakan ads agar kontes anda lebih viral dan powerful. Baca tentang kontes : Juara dunia SEO membuka rahasia Facebook viral contest untuk meledakkan omzet toko online.

Mengapa Value Proposition Dapat Menghasilkan Conversion (dan Bagaimana Cara Membuatnya)

Mungkin Anda punya produk terbaik di dunia, dengan fitur yang luar biasa, perkenalan produknya dieksekusi dengan sempurna, dengan harga yang bersaing dalam kategori produk Anda, tapi tidak akan ada orang yang tahu tentang semua kehebatan ini jika mereka tidak mendapatkan value proposition Anda.

Value proposition adalah hal nomor 1 yang menentukan apakah orang akan keberatan untuk membaca mengenai produk Anda atau justru meninggalkan informasi tersebut. Dalam blog post kali ini akan dibahas secara mendalam mengenai Value Proposition. Apa itu value proposition dan bagaimana membuat value proposition yang bisa menyukseskan bisnis Anda.

Apa itu value proposition?

Sederhananya, Value Proposition merupakan pernyataan positioning yang menjelaskan apa benefit yang Anda tawarkan, untuk siapa dan bagaimana Anda melakukannya secara unik. Value proposition juga menjelaskan target pembeli Anda, masalah yang Anda selesaikan, dan mengapa Anda berbeda dari kompetitor.

Pada dasarnya, Value Proposition merupakan sebuah janji. Janji dari value yang Anda buat untuk pelanggan ketika mereka menggunakan produk Anda. Value proposition merupakan alasan bagi lead untuk membeli produk Anda, bukannya produk kompetitor. Value proposition yang baik seperti Peep Laja yang dibicarakan ConversionXL, akan menjelaskan bagaimana produk Anda seharusnya:

  • Menyelesaikan masalah pelanggan atau meningkatkan kehidupan mereka (relevansi)
  • Menyampaikan benefit tertentu (value yang terukur)
  • Memberi tahu pelanggan ideal Anda mengapa mereka harus membeli produk Anda dan bukan dari kompetitor (diferensiasi yang unik)

Value proposition menggunakan bahasa yang tepat, anggap saja seperti ini:

Apakah Anda bisa menjelaskan kepada teman Anda tentang apa penawarannya dan bagaimana manfaatnya dengan mengatakan dalam satu kalimat?

Maka Anda sudah melakukan hal yang tepat. Hindari jargon yang tidak berguna, yang hanya akan dimengerti oleh orang internal. Value proposition perlu disampaikan kepada pelanggan Anda dalam bahasa yang tepat. Agar bisa melakukannya, Anda perlu mengetahui apa yang dibicarakan oleh pelanggan Anda. Anda tidak bisa menebak gaya bahasa yang mereka gunakan, Anda harus mengetes sendiri untuk memahami pelanggan Anda. Sebagai bagian dari proses membangun personas pembeli.

Cara Anda membicarakan servis bisnis seringkali sangat berbeda dari cara pelanggan Anda menjelaskannya. Sama seperti ketika Anda ingin mendapat validasi untuk ide startup, tidak ada yang bisa ditemukan dari internal, Anda harus mengobrol dengan pelanggan untuk mengetahuinya.

Apa yang BUKAN termasuk value proposition

Kesalahan yang sering dibuat adalah menganggap bahwa slogan atau catch phrase sebagai value proposition Anda. Slogan merupakan materi iklan yang bagus jika Anda memiliki budget iklan jutaan dollar. Tapi tidak untuk bisnis online seperti UKM. Slogan seperti:

  • Nike – Just do it
  • Adidas – Impossible is Nothing
  • McDonalds – I’m loving it
  • Vodafone – Make the most of now

Contoh di atas bukan value propositions. Hal yang sama juga berlaku untuk pernyataan positioning, misalnya sebuah parfum mewah yang menggunakan kalimat berikut:

“Sebuah wangi spesial untuk wanita cerdas, parfum kami memberikan aroma floral klasik dan langka yang hanya dimiliki oleh parfu mkami.”

Meskipun terdengar seperti value proposition yang bagus, sebuah pernyataan positioning merupakan bagian dari value proposition Anda. Pernyataan positioning merupakan sebuah pesan yang membantu Anda untuk memperkenalkan produk melalui marketing secara luas.

Jual dengan sungguh-sungguh

Value proposition yang bagus memiliki beberapa elemen. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Neil Patel, sebuah Value Proposition yang baik terdiri dari:

  1. Headline – menjelaskan manfaat produk Anda kepada pelanggan
  2. Subheadline atau paragraph – sebuah penjelasan yang detail mengenai apa yang Anda tawarkan, kepada siapa dan mengapa
  3. Tiga buah poin (optional) – menjabarkan semua manfaat dan/atau fitur produk
  4. Elemen visual – menampiklan video atau gambar untuk mendukung pesan Anda

Bagaimana cara membuat value proposition yang memenangkan hati pelanggan?

Ada beragam cara untuk menuliskan value proposition yang baik. Anda ingin meyakinkan pelanggan untuk mulai menggunakan produk atau servis Anda dan mendapatkan conversion yang lebih tinggi? Maka Anda bisa menggunakan salah satu dari empat cara berikut untuk membantu Anda membuat value proposition yang menarik.

#1: XYZ milik Steve Blank

Dalam bukunya “How To Build a Web Startup – Lean Launchpad Edition”, Steve Blank menyatakan metode ini sebagai cara paling mudah dalam membuat value proposition untuk produk atau perusahaan Anda.

Format:

“Kami membantu X melakukan Y dengan Z”

Contoh:

Dalam kasus Buattokoonline.id: “Kami membantu toko online dan UKM meningkatkan penjualan online dengan materi premium digital marketing.

#2: Elevator Ride dari Dave McClure

Dave McClure dari 500 startups memiliki pendekatan yang berbeda yakni dengan 3 langkah checklist untuk membuat pernyataan Value Proposition.

Format:

  • Singkat, sederhana, mudah diingat; apa, bagaimana, mengapa.
  • 3 keyword atau frase
  • Keep It Simple Stupid (KISS), jangan gunakan jargon yang sulit!

Contoh:

Buattokoonline.id, merupakan tempat mempelajari digital marketing untuk untuk meningkatkan penjualan online UKM.

#3: High-Concept Pitch dari Dan and Chip Heath

Menurut Heath bersaudara, pitch high-concept dapat meyakinkan produser film untuk investasi di sebuah projek film baru dengan tanpa uang. Film seperti “Jaws on a spaceship” (Alien) atau “Die Hard on a bus” (Speed) merupakan beberapa contohnya. Konsep ini bisa dijabarkan dalam format berikut:

[contoh industri yang terbukti] untuk/dari [domain baru]

Contoh:

  • Flickr untuk video. (Youtube)
  • Marketo untuk WordPress (Inbound Rocket)

#4: Value Positioning Statement milik Geoff Moore

Geoff Moore penulis dari buku “Crossing the Chasm” memiliki format value proposition yang lebih panjang. Formatnya memiliki lebih banyak kalimat daripada miliki Steve Blank, Dave McClure atau Dan & Chip Heath, tapi outline-nya sangat seimpel, dan sangat mudah digunakan oleh perusahaan Anda.

Format:

Untuk ___________ (target customer)

yang ___________ (pernyataan akan kebutuhan atau peluang)

(nama produk/servis) kami merupakan ___________ (kategori produk)

Yang (pernyataan manfaat) _________________

Contoh:

Untuk UKM dan toko online

yang kesulitan mendapatkan pelanggan meskipun sudah melakukan berbagai usaha marketing

Buattokoonline.id merupakan pembelajaran digital marketing yang membantu Anda mendapatkan pelanggan serta meningkatkan penjualan online.

Kesimpulan

Hanya karena Anda membuat produk atau servis yang lebih baru dan lebih baik, bukan berarti pekerjaan Anda selesai. Kalau Anda tidak membuat perceived value atau gains dengan jelas, leads Anda tidak akan menghasilkan conversion. Namun, Anda bisa memengaruhi cara leads mengenali gains dan loss. Cara terbaik untuk membuktikan value adalah dengan menjelaskan seperti apa hidup orang ketika sebelum dan sesudah menggunakan produk Anda. dengan menggunakan value proposition yang jelas, Anda bisa meyakinkan pelanggan potensial bahwa hidup mereka akan menjadi lebih baik dengan menggunakan produk Anda.

Sama seperti hal lain yang berkaitan dengan startup, value proposition perlu dites dan divalidasi untuk mendapatkan hasil terbaik.

Sumber: Inbound Rocket

11 Tipe Kepemimpinan

Dewasa ini semakin banyak orang yang tertarik dengan pembahasan tentang kepemimpinan. Buku-buku yang membahas akan hal itu habis terjual. Seminar dan pembahasan mengenai kepemimpinan rasanya tidak akan ada habisnya. Semua orang berusaha mengidentifikasi pemimpin seperti apa dirinya tersebut. Bagi mereka yang ingin mencoba, atau setidaknya terinspirasi, berikut ini adalah beberapa tipe pemimpin yang bisa Anda lihat:

1. Adaptif

Dalam keadaan normal, mungkin saja tidak akan ada jawaban yang mudah, tapi setidaknya akan ada sebuah jawaban. Di saat krisis dan terjadi perubahan di mana-mana, seorang pemimpin harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dalam menjalankan bisnisnya. Seorang pemimpin yang adaptif dapat menyesuaikan diri dan perusahaan dengan keadaan yang dinamis, menyesuaikan nilai mereka dengan perubahan ya g terjadi, dan membantu bawahan mereka untuk dapat ikut menyesuaikan diri dan mengenali perubahan yang terjadi tanpa mengurangi kepercayaan bawahan tersebut kepada mereka. Contoh pemimpin adaptif yang dapat Anda lihat adalah Sam Palmisano dari IBM, dan Ford’s Alan Mulally.

2. Kecerdasan emosional

Seorang psikolog Daniel Goleman mengkorelasikan kepemimpinan yang sukses dengan kesadaran akan perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain. Pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional sangat bisa mengatur diri mereka sendiri dan hubungan mereka dengan orang lain, dan mereka juga seringkali merupakan orang yang sangat hebat dalam mempengaruhi (dalam arti yang baik). Semua orang dapat berlatih dan belajar untuk bisa cerdas secara emosional.

3. Karismatik

Seorang pemimpin yang kharismatik dapat mempengaruhi orang lain untuk melewati kepemimpinan bersama dirinya. Sembilan puluh tahun yang lalu, sosiologis Max Weber menggambarkan otoritas kharismatik berasal dari karakter yang luar biasa, pejuang, dan kesucian. Dewasa ini, kharismatik lebih berhubungan dengan personality seseorang dan tampaknya susah untuk diajarkan. Seorang pemimpin yang kharismatik dapat menjadi motifator yang hebat dan seringkali membawa kesuksesan yang luar biasa bagi perusahaannya. Contoh pemimpin yang kharismatik adalah Theodore Roosevelt.

4. Authentic

Authenticity, seperti halnya passion, adalah sebuah kata yang sering digunakan. Tapi kata ini tetap masih terdengar fresh ketika mantan CEO dari Medtronic, Bill George menggunakan kata ini untuk menggambarkan pemimpin dengan integritas dan karakter. Itu di tahun 2003, dua tahun setelah runtuhnya Enron dan delapan tahun sebelum Medtronic, dibawah CEO yang lain, membayar lebih dari dua puluh tiga juta dollar untuk mengatur klaim untuk  membayar kesalahan mereka. Hal ini menunjukan, seorang pemimipin yang memiliki keaslian, seperti James Goodnight dari perusahaan software raksasa SAS merupakan seorang bintang dari keteguhan dan disiplin.

5. “Level  5 leader”

Seperti yang digambarkan seorang pebisnis hebat Jim Collins, pemimpin level 5 mengejar tujuan dengan kegigihan seperti seekor singa dan kerendahan hati seperti seekor domba. Orang seperti ini sangat sulit dicari. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang murah hati, bertanggung jawab, dan meletakkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. Meskipun banyak entrepreneur yang dikatakan merupakan pemimpin level 5, yang perlu dilihat apakah mereka bisa menekan ego mereka sendiri dalam menjalankan perusahaan atau tidak.

6. Mindful leader

Terlalu banyak pemimpin yang menjalani kepemimpinan mereka berdasarkan pada asumsi lama dan aturan-aturan yang tidak praktis. Jika pemimpin tersebut memberikan perhatian pada lingkungan mereka, memperhatikan, menganalisa dan yang paling penting, mendengarkan orang lain, maka mereka akan menanyakan pertanyaan yang lebih pintar, dapat mendeteksi perubahan yang terjadi, dan dapat menjadi pelajar yang lebih baik. Kesadararan ini akan lebih mudah dilakukan oleh para pemimpin muda, yang belum tercemar oleh pemikiran-pemikiran lama dan kebiasaan-kebiasaan lama. Tapi perusahaan raksasa juga seringkali melahirkan pemimpin-pemimpin yang mindful.

7. Narsisme

Diluar para pemimpin yang hebat, terdapat juga beberapa pemimpin yang tidak patut dicontoh. Beberapa diantaranya adalah pemimpin yang terlalu mencintai dirinya sendiri, atau yang biasa kita kenal dengan nama pemimpin yang narsis. Pemimpin yang narsis tidak mendengarkan orang lain, tidak ingin belajar, tidak ingin mengajar, dan tidak suka jika ada pendapat yang berbeda dari pendapat mereka. Tapi tidak semua pemimpin yang narsis itu buruk. Psikoanalisis Michael Maccoby menggambarkan satu tipe narsis yang tidak terlalu buruk. Contoh pemimpin seperti ini adalah Bill Gates dan Andy Grove. Mereka adalah pemimpin yang visionaris, dan mampu membawa orang-orang mengikuti visi yang mereka buat. Tipe pemimpin seperti ini ternyata memiliki pendamping yang mampu menutupi kekurangan mereka, dan tetap menjaga mereka utnuk rendah hati.

8.  “No-excuse” leadership

Kemiliteran tampaknya merupakan suatu tempat yang memiliki pembelajaran kepemimpinan yang tinggi dan tidak pernah berakhir. Kepemimpinan yang “no-excuse” merupakan tipe kepemimpinan yang biasanya terdapat di dunia militer. Tipe kepemimpinan ini akan mampu membuat keputusan dengan cepat, bersikap tegas dan keras, dan menunjukan mental yang kuat. Ini merupakan suatu kebetulan ketika penelitian di tahun 2006 menunjukan bahwa perusahaan yang dipimpin oleh mantan militer mengungguli S&P 500, dan pemimpin tersebut bertahan lebih lama dalam pekerjaan mereka. Contoh pemimpin ini adalah Frederick Smith, mantan angkatan laut yang menjalankan FedEx selama lebih dari 40 tahun.

9. Menular

Richard Boyatzis dan Annie McKee menyebutkan bahwa emosi itu menular: Moral seseorang dapat naik dan turun sesuai dengan mood dari sang pemimpin. Pemimpin yang positif dan bersemangat dapat menularkan hal itu kepada bawahan mereka dan menularkan antusiasme yang positif dalam perusahaan. Merupakan hal yang penting untuk diingat bahwa Anda harus dengan cermat menghitung dan merancang perusahaan Anda, dan seberapa banyak hal itu akan mempengaruhi kehidupan pribadi Anda. Seorang pemimpin harus mampu memisahkan permasalahan pribadi dari kehidupan profesional mereka.

10. Melayani

Pemimpin tipe ini adalah pemimpin yang bersedia untuk melayani bawahannya, tidak tertutup pada batasan jabatan. Pemimpin tipe ini akan bersedia untuk pertama kali melayani, dan bersedia menjadi contoh agar bawahan mereka dapat bekerja dengan lebih baik. Tipe-tipe pemimpin ini adalah mereka yang memiliki empati yang besar, peduli, dan mau menyembuhkan.

11. Storyteller

Seorang pemimpin harus mampu bercerita: tentang dirinya sendiri, tentang perusahaan, tentang apa yang dilakukan pegawai mereka, dan tentang apa yang akan dilakukan mereka di masa depan. Menceritakan cerita membangkitkan emosi yang tidak dapat dibantah siapapun juga. Tidak heran, jika tipe pemimpin seperti ini banyak terdapat dan cocok untuk para entrepreneur, karena para entreprenur membangun sendiri cerita mereka, dan merekalah yang benar-benar mengerti cerita mereka.

16 Metric Startup Yang Harus Di Perhatikan dari GMV, LTV, CAC, Churn, Burn Rate dll

Artikel ini kami ambil dari blog Andreessen Horowitz, hal ini sering menjadi pertanyaan startup. Metric apa yang harus diperhatikan ? Rule umumnya adalah menemukan “One Metric That Matter” (OMTM).  Buku Lean Analytics karangan Alaistair Croll dan Ben Yozkovitz menyebutkan ” The One Metric That Matters is all about finding the right thing to track at the right time, based on the type of business you’re in and the stage you’re at.” Artikel ini memberikan gambaran metric apa saja yang dianggap penting bagi Anda untuk menjawab apakah startup Anda berjalan dengan baik.

 

Kami memiliki previlege untuk bertemu dengan ribuan entrepreneur setiap tahunnya, lalu pada pertemuan dan diskusi tersebut mereka mempresentasikan seluruh angka, ukuran, dan metric yang mengilustrasikan kesehatan dan perkembangan perusahaan kedepannya nanti. Namun terkadang metric yang di gunakan bukanlah sebuah pilihan yang tepat dengan apa yang terjadi saat ini dalam bisnis yang sedang berjalan, atau banyak orang yang salah mengartikan metric yang ada sehingga membuat kita sulit untuk mengetahui bagaimana kesehatan dan perkembangan bisnis tersebut kedepannya.

Jadi, mungkin hal ini tidak asing lagi bagi kalian yang telah menggunakan metric ini setiap saat. Kita akan menggabungkan metric yang paling dasar hingga metric yang paling membingungkan dan kami juga akan memberikan sebuah catatan mengapa investor fokus terhadap metric tersebut. Metric yang baik bukanlah tentang mendapatkan pendanaan dari Venture Capital (VC) namun bagaimana founder mengerti tentang bagaimana sebuah hal dapat berjalan (atau tidak).

Jadi inilah 16 Metric yang perlu diperhatikan.

Metric Bisnis dan Financial

#1 Booking vs Revenue

Kesalahan yang paling umum terjadi adalah banyak orang yang menggunakan bookings dan revenue secara bergantian, padahal dua hal tersebut merupakan hal yang berbeda.

Bookings merupakan sebuah nilai kontrak  antara perusahaan dengan customer. Hal yang dimaksud adalah sebuah bagian dari kewajiban kontraktual yang harus dibayarkan customer kepada perusahaan.

Revenue terjadi ketika layanan diberikan setelah perjanjian yang telah disetuji. Bagaimana revenue tersebut dapat diakui atau sah diatur oleh GAAP (Generally Accepted Accounting Principles)

Surat perjanjian lisan tidak termasuk dua hal di atas.

#2 Recurring Revenue vs Total Revenue

Investor lebih menilai tinggi sebuah perusahaan yang total revenue nya lebih banyak berasal dari product revenue dibandingkan dengan service. Mengapa? Karena service revenue itu tidak pasti, memilikki margin kecil, dan kurang scaleable. Product revenue didapatkan dari penjualan produk itu sendiri sehingga dapat di prediksi dan stabil.

Ada beberapa hal yang harus perhatikan tentang hal ini

ARR (Annual Recurring Revenue) yaitu sebuah ukuran dari komponen revenue yang akan datang kembali dengan sendirinya. Jadi , one-time fees tidak termasuk dalam hal ini.

ARR per customer apakah hal ini stagnan atau terus meningkat? Jika kalian melakukan up-selling atau cross-selling maka seharusnya hal ini akan meningkat, yang merupakan sebuah indikator positif dari perusahaan yang sehat.

MRR ( Monthly Recurring Revenue) banyak orang yang mengalikan (one-month’s booking x 12 bulan) untuk mendapatkan angka ARR. Kesalahan umun dalam metode ini adalah : (1) menghitung biaya non-recurring seperti hardware, setup, instalasi, dan jasa profesional. (2) menghitung bookings.

#3 Gross Profit (Laba Kotor)

Perkembangan top-line bookings sangatlah penting, selain itu investor ingin mengerti seberapa untung kah revenue stream yang Anda miliki oleh karena itu gross profit dapat memenuhi informasi tersebut.

Apa yang termasuk dalam Gross Profit dapat bervariasi tergantung perusahaannya, namun secara umum hal tersebut termasuk biaya manufactur, pengiriman, dan customer service.

Jadi Anda harus melakukan break-down dari apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam Gross Profit.

#4 Total Contract Value (TCV) vs Annual Contract Value (ACV)

TCV ( Total Contract Value ) merupakan total nilai sebuah kontrak (jangka pendek dan jangka panjang) . Pastikan juga bahwa dalam TCV termasuk one-time charges, biaya jasa profesional dan biaya recurring.

ACV ( Annual Contract Value ) mengukur nilai kontrak selama periode 12 bulan . Beberapa pertanyaan di dalam ACV :

Seberapa besarkah? Apakah Anda mendapatkan beberapa ratus dollar dari customer Anda, atau bisa mendapatkan angka yang lebih besar?  Tentu saja hal ini tergantung dengan pasar yang Anda targetkan. (UKM vs Kelas Menengah vs Pengusaha Besar).

Apakah ACV Anda mengalami peningkatan? Jika ya, itu berarti customer membayar lebih banyak terhadap produk yang Anda tawarkan. Hal tersebut juga berarti bahwa produk Anda memilikki nilai lebih (fitur dan kemampuan) di mata customer sehingga mereka mau untuk membayar lebih banyak terhadap produk Anda.

#5 Life Time Value (LTV)

Lifetime Value merupakan suatu keuntungan yang telah diprediksi dan diantisipasi, yang dapat customer berikan kepada kita selama  customer tersebut masih berhubungan dengan bisnis kita.

Kesalahan yang umum terjadi adalah mengitung LTV sebagai pendapatan saat ini atau gross margin dari customer, bukannya menghitung net profit yang dihasilkan dari hubungan bisnis yang terjadi dari awal dengan customer tersebut.

Ini adalah cara menghitung LTV

  • Revenue per customer (per month) = Average Order Value x  Number of Orders
  • Contribution margin per customer (per month) = Revenue from Customers  – Variable Cost Associated with a Customers (Variabel Cost termasuk biaya administrasi dan operasional dalam melayani customer)
  • Avg. life span of customer (in month) =  1 / perputaran customer dalam 1 bulan
  • LTV = Contribution margin per customer x Avg. life span of customer

Jika kalian hanya memiliki beberapa data bulanan, cara terbaik untuk mengukur LTV adalah melihat data-data yang tersedia sebelumnya. Daripada memprediksi average life span dan mengestimasi seperti apa  kurva yang akan terbentuk dari retention, lebih baik mengukur 12 hinga 24 bulan LTV yang kita miliki.

#6 Gross Merchandise Volume (GMV) vs Revenue

Di dalam bisnis marketplace, kedua hal ini sering digunakan secara bergantian namun ingat bahwa GMV tidak sama dengan Revenue.

Gross Merchandise Value (GMV) adalah total transaksi penjualan dari merchandise melalui marketplace dalam periode tertentu. Hal yang paling penting adalah mengetahui apa yang konsumen sukai dalam marketplace. Hal itu penting untuk mengukur besarnya sebuah marketplace dan juga dapat berguna untuk menentukan acuan (current run rate) menghitung rate bulan terakhir atau quarter (3 bulanan).

Revenue merupakan bagian dari GMV yang di “ambil” oleh marketplace. Revenue berisi berbagai macam biaya yang marketplace dapatkan dengan menyediakan jasanya. Kebanyakan berasal dari biaya transaksi yang dikenakan oleh marketplace lalu juga yang berasal dari iklan dan sponsorship.

#7 Unearned or Deferred Revenue … and Billings

Dalam bisnis SaaS ini adalah kas yang dapat diterima yaitu uang muka (booking) sebelum menerima revenue yang akan terwujud nantinya.

Perusahaan SaaS dapat menerima revenue ketika perjanjian dari jasa yang diberikan telah dilaksanakan – meskipun customer telah menandatangani perjanjian. Jadi dalam beberapa kasus “booking” tersebut masuk ke dalam neraca keuangan pada bagian Liability yang disebut deffered revenue.

Salah satu cara untuk mengukur pertumbuhan dan kesehatan dari perusahaan ini  yaitu dengan melihat billing (tagihan), yang dihitung dari revenue yang diambil dari quarter pertama ditambah dengan deffered revenue dari quarter sebelumnya ke dalam quarter saat ini. Jika perusahaan SaaS mengalami peningkatan booking, maka billing akan meningkat.

Billing dilihat sebagai indikator yang baik untuk menilai kesehatan dari perusahaan SaaS daripada hanya melihatnya dari revenue yang di dapat karena revenue menurunkan nilai dari seorang customer. Hal ini juga sedikit tricky karena sifat dari recurring revenue itu sendiri : sebuah perusahaan SaaS bisa menunjukkan pendapatan yang stabil untuk waktu yang lama – hanya dengan menjadikan billing tersebut sebagai sebuah jaminan simpanan yang membuat perusahaan tersebut terlihat lebih bagus dari yang sebenarnya terjadi. Hal ini lah yang harus kita perhatikan ketika mengevaluasi jenis bisnis ini.

#8 CAC (Customer Acquisition Cost) … Blended vs. Paid, Organic vs. Inorganic

Customer Acquisition Cost (Biaya mengakuisisi customer) seharusnya adalah total biaya untuk mendapatkan sebuah customer yang disampaikan dalam per user basis. Sayangnya metric dari CAC  hadir dengan berbagai macam ukuran dan bentuk.

Masalah umum yang dihadapi dengan metric CAC adalah gagal untuk memasukkan seluruh biaya yang terjadi dalam mengakuisisi customer seperti biaya refferal, credit, atau diskon. Kendala umum lainnya adalah menghitung CAC sebagai biaya “campuran ” (biaya akuisi organic dan paid digabung menjadi satu).  CAC ini memang tidak salah, namun hal tersebut akan membuat informasi yang tidak optimal tentang campaign berbayar yang Anda jalankan, apakah hal tersebut berjalan dengan baik atau apakah hal tersebut dapat menguntungkan perusahaan.

Hal ini yang membuat investor mempertimbangkan paid CAC  lebih penting daripada CAC campuran dalam mengevaluasi kelayakan dari sebuah bisnis – karena hal ini mengiformasikan apakah sebuah perusahaan dapat meningkatkan budget untuk mengakuisisi customer. Banyak argumen yang muncul karena hal ini misalnya CAC berbayar berkontribusi terhadap organic acquisition.

Banyak investor yang senang untuk melihat keduanya (campuran dan berbayar). Mereka juga senang untuk melihat break-down dari uang yang dihabiskan untuk mengakuisisi customer dari channel lain misalnya “berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi customer melalui Facebook?”

Namun kenyataannya justru berlawanan biaya yang dikenakan akan semakin besar ketika Anda mencoba untuk mengakuisisi target audience yang lebih besar. Anda akan menghabiskan $1 untuk mendapatkan 1000 user pertama, $2 untuk 10.000 berikutnya dan $5 – $10 untuk 100.000 user lainnya. Itulah sebabnya Anda tidak mampu untuk mengabaikan metric tentang volume user yang didapatkan dari berbagai channel.

Metric Produk dan Engagement

#9 Active Users

Beberapa perusahaan memiliki definisi yang berbeda tentang apa yang dimaksud “active”. Banyak grafik yang tidak menjelaskan aktifitas apa saja yang terlibat di dalamnya, dan ada juga grafik yang menjelaskan aktivitas yang salah misalnya memiliki proporsi yang tinggi dari first-time user.

Jadi disini Anda harus jelas dalam bagaimana Anda mendefinisikan kalimat “active”.

#10 Month-on-month (MoM) growth

Seringkali hal ini di ukur sebagai rata-rata tingkat pertumbuhan bulanan, namun investor lebih suka menyebutnya sebagai CMGR (Compunded Monthly Growth Rate) karena CMGR mengukur pertumbuhan berkala, terutama untuk bisnis marketplace.

Menggunakan CMGR juga membantu Anda agar mempunyai patokan tingkat pertumbuhan yang dimilikki oleh perusahaan lainnya. Jika tidak hal ini akan cukup sulit untuk dibandingkan karena faktor ketidakpastian dan faktor lainnya.

#11 Churn (Perputaran)

‘Churn Rate’ adalah persentase subscriber dari sebuah service yang tidak melanjutkan berlangganan dengan Anda. Untuk sebuah perusahaan bisa melakukan ekspansi, maka growth rate dari perusahaan (atau jumlah customer baru yang berlangganan) harus melebihi churn ratenya.

Terdapat banyak jenis dari “Churn”, churn of money, churn of customer dan lain lain dan banyak cara bagaimana cara mengukur churn.

Investor melihat hal tersebut kira-kira seperti ini :

  • Monthly Unit Churn = customer yang hilang / total customer yang hilang periode sebelumnya

Cara Melihat Retention

  • Bulan 1 dijadikan sebagai acuan dengan bobot 100%
  • Maka retention nya dapat dihitung dengan cara melihat jumlah %an dari acuan di atas yang masih melakukan transaksi dengan kita.

Lalu membedakan gross churn dengan net revenue churn juga merupakan hal yang penting.

Gross Churn = MRR lost in a given month/MRR at the beginning of the month. (MRR adalah Montly Recurring Revenue)

Net Churn = (MRR lost – MRR from upsells) in a given month/MRR at the beginning of the month.

Perbedaan dari kedua hal tersebut sangat signifikan dimana gross churn menghitung tentang kerugian bisnis pada saat itu, dan net churn mengurangi kerugian tersebut.

#12 Burn Rate

Burn rate merupakan tingkat dimana kas yang kita miliki berkurang. Terutama dalam perusahaan startup pada tahap awal, sangat penting untuk  mengetahui dan terus memonitor burn rate mereka karena mereka akan gagal apabila kas perusahaan mereka habis dan tidak memilikki waktu mencari pendanaan tahap selanjutnya untuk perusahaan mereka.

Berikut adalah cara untuk menghitung burn rate

Monthly cash burn = Cash balance pada awal tahun – Cash balance pada akhir tahun / 12

Penting juga untuk mengukur net burn vs gross burn

Net Burn –  [Revenue – Gross Burn] adalah cara yang benar untuk menghitung uang kas yang Anda keluarkan setiap bulan.

Gross Burn di lain hal hanya melihat beban (expense) bulanan ditambah dengan pengeluaran kas lainnya.

Investor cenderung fokus kepada net burn untuk mengetahui berapa lama uang yang ada di bank Anda akan habis untuk digunakan dalam kegiatan bisnis perusahaan. Mereka juga akan memperhitungkan tingkat pertumbuhan pendapatan dan pengeluaran Anda karena angka dari uang yang dihabiskan tidak akan konstan.

 

#13 Download

Di metric ini investor ingin melihat engagement user dengan startup Anda- contohnya DAU (Daily Active User), MAU ( Monthly Active User), photo shared, photo view, dan lain lain.

Penyajian Metric Pada Umumnya

#14 Cumulative Charts (vs. Growth Metrics)

Cumulative Chart / grafik kumulatif biasanya selalu memiliki grafik ke atas dan bergerak ke kanan untuk bisnis yang memiliki aktivitas yang cukup baik. Namun hal ini bukan merupakan pengukur yang valid karena grafik tersebut juga dapat mengarah ke atas dan bergerak ke arah kanan untuk sebuah bisnis yang mengalami penurunan sehingga metric ini tidak begitu membantu untuk dijadikan sebagai indikator dari perusahaan yang sehat.

Investor lebih suka melihat GMV bulanan, revenue bulanan, atau user baru perbulan nya untuk menilai pertumbuhan dari sebuah perusahaan terutama dalam tahap awal. Quarterly chart ( periode 3 bulan sekali) dapat digunakan dalam bisnis pada tahap selanjutnya atau bisnis yang memilikki metrics yang selalu berubah-ubah tiap bulannya.

#15 Chart Tricks

Ada beberapa trik dalam hal ini seperti tidak melakukan labeling grafik pada sumbu Y , menyusutkan skala grafik untuk melebih-lebihkan tingkat pertumbuhan, dan menyajikan data berupa presentase tanpa menyebutkan angka pastinya. (Yang terakhir ini cukup menyesetkan kan presentase yang besar dapat terlihat menarik, namun hal tersebut bukan lah indikator yang tepat untuk kedepannya).

 

 

#16 Order of Operations

Tidak masalah untuk menyajikan metric yang kita miliki seperti kita menceritakan sebuah cerita.

Yang penting ketika mengevaluasi sebuah bisnis, investor akan melihat kepada GMV, revenue, dan booking karena 3 hal tersebut menunjukkan seberapa besar bisnis yang kita miliki. Lalu, ketika investor mulai yakin terhadap bisnis tersebut, mereka ingin mengetahui tingkat pertumbuhan untuk melihat seberapa baik perusahaan tersebut dapat bekerja. Apabila metric dasar tersebut sudah cukup baik, maka akan membawa kita lebih lanjut.

Sama seperti partner kami yang baru saja memiliki seorang bayi : kita akan melakukan tes kesehatan kepada bayi kita, mengukur tinggi dan berat dari bayi tersebut dan membandingkan hal tersebut dengan yang sebelumnya untuk melihat apakah bayi tersebut sehat atau tidak sebelum kita bergerak lebih lanjut.

Sumber : http://a16z.com/2015/08/21/16-metrics/

Kesalahan Marketer Baru .. dan juga lama

Definisi “marketer” ada banyak ya.. gak tau juga si alvin minta nya apa. kl ga cocok “marketer” ya tar tak ganti

  1. Tidak membangun organic traffic dari awal (longterm)
  2. Terlalu fokus membangun organic traffic sehingga lupa melihat bahwa paid traffic sebenarnya lebih cepat menjangkau customer
  3. Outsource SEO, padahal backlink mainan bayi sama fashion dicampur campur sama agencynya
  4. Tidak mengerti funnel dan cara membawa target market ke funnel yg lebih bawah mendekati purchase
  5. Outsource SEO tanpa lupa sebenarnya membangun brand (naikin likes, partnership, being the best source content) juga sgt penting
  6. Tidak tahu cara membangun direct traffic
  7. Tidak membangun database email dari awal
  8. Yang ini baru kemarin saya dengar : “gue mau paksa tim gw naikin FB likes organic, tanpa ads. Tapi hasilnya dikit banget, cuma 200 likes”  dalam hati gw pikir daripada ngegaji tim 4 -5 juta per orang mending budget gaji buat ads, lebih cepat dan tidak buang waktu
  9. Yang ini secara teori sih enak, tapi eksekusinya susah kalau waktu kita terbatas : Tidak being in the edge of tech / ads tech / new platform. Denger2 di US ada FB messenger ads dan karena ini ads tipe baru, engagementnya gilaa, di akun saya sih blm muncul ya placementnya
  10. Budget ads lebih kecil daripada gaji karyawan yang handle itu budget.
  11. Tidak fokus di video padahal udah jelas video skr sangat efektif (tapi kalo kebanyakan ngerjain video padahal text ga digarap kan aneh juga)
  12. Tidak mendiferensiasi sumber traffic
  13. Keyword yg ditarget di adword kurang specific
  14. Sering diisep darahnya sama mastah
  15. Terlalu fokus digital marketing dan lupa sama build partnership, content distribution dan lupa ngopi seminggu sekali-dua kali sama pelaku di industri digital yg bisa kolaborasi
  16. Dikit2 jualan workshop, punya ilmu dikit jadiin ebook, jual. konten orang lain direwrite, jual, eh ini gpp lah ya asal halal dan ga ngerepotin orang
  17. ntar mikir lagi apa yah
  18. Tidak membangun non monetary value (mis. niche traffic), saya sih suka networking pakai ini ya
  19. Tidak fokus pada gap yang ada di market dan apa yang bisa anda lakukan untuk mengisi gap tersebut
  20. Tidak suka nempel2 di channel besar atau orang yang pny channel gede (tapi kalau keseringan risi ya)
  21. Nyuekin orang lain, padahal 3 taun lagi tuh orang jadi founder unicorn (Nadiem, 4 tahun lalu ngajak saya meeting saya cuekin, sekarang aku hanya sebutir debu)
  22. Suka nyusahin orang, padahal kalau ga bisa bantu orang, ya jangan nyusahin lah. siapa tahu orang yg km buat susah 3 taun lagi jd founder unicorn
  23. harapan : mau bikin unicorn. realita : bikin unicrot
  24. tidak belajar outsource konten
  25. tidak eksplor market yang lebih besar
  26. tidak berani melakukan leap of faith
  27. tidak fokus di 1 niche
  28. terlalu fokus di 1 niche – kemakan omongan mentor “focus in 1 product only”
  29. membuat startup yg purposenya (reason of being) sama dengan startup lain yg sudah ada dan sudah duluan besar
  30. (in some niche) tidak fundraise dari awal, krn merasa berduit, setelah 4 tahun, baru ngeh kompetitor pada fundraise dan KPI kompetitornya bukan profit krn funding besar
  31. punya ekspertise tapi tidak bikin buku/blog
  32. punya ekspertise tapi ga pernah dishare
  33. suka minta saham ke starap mentang2 sering dipanggil jd mentor (ga invest duit), ada yang minta bantuin dikit aja diminta saham. mentor apa pengemis
  34. terlalu baik bantuin startup, dibantuin omzet naik sampe 20x lipat dibayar pake bakso
  35. salah mikir
  36. tidak melakukan hard conversation di awal

ga tau men ini gw nulis apaan sih